WTF: Abstrak adalah jendela makalah

Preview dari buku #WritingsTotallyFun

Yang jelas abstrak bukan hanya kesimpulan, tetapi “jendela” makalah atau karya ilmiah apapun yang kita buat. Kira-kira skema isinya ada pada gambar di bawah ini.

  • Latar belakang: mengapa anda menulis makalah atau melakukan riset tersebut.
  • Metode: apa saja prosedur sejak pengambilan data, uji laboratorium, hingga analisis. Sertakan jenis alat, piranti keras dan piranti lunak yang anda gunakan, dll. Sebut saja selintas. Detilnya dapat anda sebutkan dalam body text. Percayalah, kalau anda membuat Abstrak yang rinci, maka pembaca akan terus membaca makalah anda hingga halaman terakhir.
  • Hasil: Paragraf yang menceritakan hasil akan mendominasi Abstrak. Ceritakan point-point hasil yang anda dapatkan, ceritakan secara rinci tanpa harus bertele-tele.
  • Signifikansi: Bagian ini sering lupa, padahal ini adalah salah satu kunci agar pembaca tertarik membaca seluruh naskah. Jelaskan apa keberhasilan yang signifikan dari riset anda, apa yang telah anda lakukan yang belum dilakukan sebelumnya. Bagian ini juga kunci agar pembaca mereplikasi metode yang anda gunakan untuk keperluannya.
Advertisements

WTF: Judul sangat menentukan

Kiranya judul sub bab tidak berlebihan, karena judul memang sangat menentukan. Berikut ini beberapa syarat judul yang efektif:

  • judul harus ringkas tapi mampu mencerminkan isi.
  • judul menarik minat pembaca. Ketertarikan pembaca biasanya dipancing oleh judul yang ringkas dan mudah dibaca.
  • judul mengandung kata kunci yang mudah tertangkap oleh mesin pencari, misal harus mengandung: lokasi, metode, dan output.

WTF: Mengakhiri tulisan dengan abstrak dan judul

Preview dari buku #WritingsTotallyFun

Justru bagian ini yang terakhir. Jadi buat judulnya setelah tulisannya jadi. Judul akan dipandu oleh kerangka penulisan (story board) yang telah anda buat, plus kata kunci-kata kuncinya. Hal lainnya adalah, bagaimana agar judul yang anda tulis mudah ditemukan. Jaman sekarang ada istilah liked by Google. Jadi bagaimana agar makalah anda bisa ditangkap oleh robot-robot web crawler itu berdasarkan kata kunci yang diketik di mesin pencari.

Writing vs editing: Menulis vs menyunting mana lebih susah

(Oleh: Dasapta Erwin Irawan dan Cut Novianti Rachmi; Ilustrasi: Fusi)

Menurut buku Peat et al. (2002) tahapan menulis adalah: pre-writing, drafting, revising, editing, dan publishing. Menurut saya yang sulit di bagian “pre-writing” dan “editing”. Yang paling membahagiakan adalah bagian “publishing”. Di saat anda menekan tombol “Publish” ada perasaan senang tiada tara.

Pre-writing (persiapan):

Di sini anda harus punya imajinasi tingkat tinggi. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah, mau menulis apa dan harus mulai dari mana. Di sini saya bisa sarankan, bahwa jawabannya terserah anda. Di tahap ini anda boleh berpikir sistematis ataupun memilih untuk berpikir acak. Yang kedua biasanya yang saya pilih.

Lho mengapa? Bukankah akan lebih lama lagi untuk menstrukturkan ide.

Betul, tapi biasanya akan lebih lama lagi kalau anda sudah berpikir bab di tahap ini. Jadi “going random” adalah pilihan yang paling cocok, karena anda hanya perlu menetapkan kata kunci (keyword).

Mulai dari mana?

Jawabannya akan sama. Anda boleh mulai dari mana saja. Kalau anda mengikuti sekuel “Star Wars”, bukankah film ini dimulai dari bagian akhir. Bagian awal justru diciptakan lebih akhir. Sama halnya dengan memulai menulis. Anda boleh mulai dari kata kunci yang mana saja.

Jadi awalnya harus menentukan kata kunci?

Betul. Tidak boleh tidak. Tidak mungkin anda tidak punya. Yang betul adalah anda punya tapi tidak terlatih untuk menuliskannya. Karena itu, cara saya adalah ambil kertas dan mulai tuliskan kata kuncinya. Jangan banyak-banyak, satu atau dua kata saja. Misal bila kita akan menulis tentang “air”, maka kata kunci yang mungkin muncul:

  • asal
  • jenis
  • aliran
  • fungsi
  • manfaat
  • kebersihan
  • jumlah
  • warna
  • bau
  • dst anda bisa menulis belasan, puluhan, bahkan ratusan bukan

Fasenya mungkin akan terlihat seperti ini:

Berawal dari mind mapping acak seperti ini (dipinjam dari http://fartsmartwebdesign.com)

pre-writing-example-fartsmartwebdesign-com

Kemudian mulai distrukturkan menjadi seperti ini (dipinjam dari http://gallaudet.edu),

joltlist1_enlarge-gallaudet-edu

Kemudian diformat menjadi seperti ini

mapping1_enlarge-gallaudet-edu

atau seperti ini

treediagram1_enlarge-gallaudet-edu

Kemudian disusun outlinenya dan berakhir seperti ini

outline1_enlarge-gallaudet.edu

Saya akan lanjutkan bagian-bagian ini lain waktu ya.

Drafting (membuat draft)

Revising (merevisi)

Editing (menyunting)

Publishing (mempublikasikan)

Ch 7: Analisis (Menulis–ilmiah–itu menyenangkan)

Blogpost ini akan sedikit lompat dari yang kemarin. Sekarang kita coba langsung ke Bab Analisis dalam proyek buku selanjutnya (WTF: (scientific) Writing is Totally Fun).

Sebagai ahli kebumian,  output utama kita biasanya peta, tapi sejalan dengan perkembangan teknik analisis spasial, (geo)statistik, dll, maka presentasi data dalam bentuk tabel dan grafik (chart) juga memegang peranan penting, terutama bagi pembaca awam (tidak punya latar belakang ilmu kebumian). Mereka juga akan mencermati angka-angka yang tertera dalam tabel dan grafik.

Berikut ini sebuah rujukan ringkas dari Dinas Statistik UK yang straight forward mengenai penyajian data. Beberapa catatan sangat penting untuk dicermati, misalnya:

  • di mana meletakkan variabel dan lokasi pengukuran (atau sampel),
  • bagaimana mengurutkan dan membandingkan data dalam tabel,
  • pentingnya memberikan anotasi garis pada grafik, misalnya untuk memperlihatkan batas ambang.

Saya akan coba sarikan dengan memperhatikan sumber lainnya dan pengalaman (pendapat) pribadi saya dalam blogpost berikutnya.

Screen Shot 2015-07-10 at 05.40.40

(dipinjam dari: http://style.ons.gov.uk/category/data-visualisation/)

Writing means making history: Menulis = membuat sejarah

(Oleh: Dasapta Erwin Irawan dan Cut Novianti Rachmi; Ilustrasi: Fusi)Melihat definisi di atas tidak berlebihan kiranya bahwa menulis sama dengan membuat sejarah. Kalau dari sisi ilmiah, mungkin agak berat ya. Tapi menurut Peat et al. (2002) ilmuwan perlu menulis karena:

bigstock_story_2226743-sueysbooks-blogspot

(dipinjam dari: http://sueysbooks.blogspot.com/)

  • tidak etis kalau kita mengerjakan riset tapi tidak melaporkan hasilnya
  • hasilnya akan selalu berharga bagi yang belum tahu: mungkin bagi anda yang tiap hari mengambil data, menganalisis, membuat grafik dll, sudah sangat biasa, tapi pasti hasilnya akan sangat berharga buat orang lain, terutama yang tidak tahu dan ingin belajar.
  • hasilnya akan bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat luas: Bukankah berbagi ilmu adalah hal yang mulia dan tidak putus pahalanya? Mungkin dari riset anda, akan ada orang lain yang akan meneruskan bahkan membuat solusi yang belum pernah terpikirkan oleh anda.
  • akan menambah daftar rekam jejak anda: CV anda akan tambah panjang. Bukan hanya itu, tulisan juga akan mendukung dua hal di bawah ini, kredibilitas dan reputasi. Timeline anda tidak hanya akan terisi “tempat/tanggal lahir” dan “riwayat sekolah sejak TK” saja.
  • tulisan merepresentasikan kredibilitas (kepakaran) anda
  • kredibilitas akan mendukung reputasi (keilmuan) anda
  • dapat mendukung karir (meneliti) anda: ya karir seorang ilmuwan ditentukan dari tulisan. Percaya atau tidak, ini juga berlaku bahkan saat anda bekerja di swasta.
  • dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, bukan sekedar anggota tim: “outreach”. Jadi yang mengetahui anda melakukan riset bukan hanya rekan seangkatan, dosen pembimbing, tapi juga khalayak ramai. Saya sering menyampaikan kepada para mahasiswa (mungkin juga anda) bahwa skripsi/tesis/disertasi anda hanya akan tercatat di sistem akademik, bukunya hanya akan ada di Perpustakaan Prodi atau Perpustakaan Pusat, dan sekarang di Digital Library. Kalau seseorang tidak dengan sengaja masuk ke ruangan atau situs itu, maka ia tidak akan tahu bahwa anda telah melakukan riset.
  • menambah peluang anda untuk mendapatkan dana riset: kalau anda seorang ilmuwan (mahasiswa juga tergolong ilmuwan lho), maka anda akan selalu diminta mengisi kolom publikasi yang telah dihasilkan. Kalau anda pernah menulis, maka mudah sekali mengisinya. Bagaimana kalau tidak? Maka panitia seleksi akan sulit sekali mengukur kredibilitas dan reputasi anda. Dengan kata lain mereka akan berpikir, “bagaimana kami bisa yakin kalau riset ini akan dijalankan dengan baik”.

Mengapa menulis

Bahwa menulis sama dengan membuat sejarah, itu yang akan kami tekankah. Bukankah zaman pra-sejarah adalah zaman tanpa tulisan? tidak muluk-muluk bukan. Di sini kami juga akan membuat anda agar tidak mudah ditekan oleh ucapan-ucapan yang menurunkan semangat, discouraging kata lainnya. Biasanya orang akan berkomentar, yang beginian saja kok ditulis. Nah anda nanti akan bisa membalas, lho kalau ini hal yang sepele, kenapa bukan anda yang menulis lebih dulu. Atau lebih keren lagi, maaf sudah berapa makalah yang sudah anda publikasikan?. Berikut ini adalah definisi dari “sejarah” (history) menurut Kamus Online Dictionary.com.

a continuous, systematic narrative of past events as relating to a particular people, country, period, person, etc., usually written as a chronological account; chronicle:

2-DefineHistory

Fig2.1 Define: History (dipinjam dari http://perchontheweb.com/)