Tag Archives: google scholar

Google Scholar Profile

Katanya untuk kalangan akademis, online visibility itu penting. Salah satu yang banyak disebut adalah memiliki Google Scholar (GS) Profile. Profile tersebut seperti etalase privat, berisi info publikasi-publikasi yang telah kita tulis. 

Beberapa minggu yang lalu hanya diskusi mengenai bagaimana cara untuk memiliki profil itu, bagaimana cara mendaftarnya, mendata publikasi dsb. Posting ini awalnya adalah komunikasi via email untuk menjawab pertanyaan “bagaimana membuat GS profile. Karena mengundang banyak pertanyaan, saya berpikir kenapa tidak ditulis di blog saja sekalian.

GS profile sebenarnya mirip dengan akun blog pribadi WordPress atau Blogger, namun isinya dibatasi daftar publikasi yang pernah kita tulis. Supaya datanya update, maka kita harus paham cara menambah publikasinya. Kalau tidak, GS akan mencari publikasi yang mungkin mengandung nama kita sebagai penulis. 

Mengenai akun GS, kalau kita sudah punya akun Gmail, maka tidak perlu daftar atau registrasi lagi. Yang perlu dilakukan adalah: 

  • login ke Gmail, 
  • kemudian buka Scholar.Google.Com,
  • kemudian masuk ke menu “My Citation” (mungkin harus masuk dulu ke menu “More”) ,
  • setelah kita entry identitas dan nama institusi, maka GS sudah dapat kita gunakan,
  • selanjutnya adalah updating data publikasi, kita harus klik menu “+ Add”, kemudian klik “Add article manually”, kemudian kita akan diminta mengisi identitas publikasi. Bila kita pilih menu “add articles”, maka GS akan mencari otomatis, kita tinggal konfirm mana publikasi yg betul punya kita, atau add manual. 

Berikutnya kalau ada waktu saya akan cerita bagaimana membuat ResearchGate profile.

Mudah bukan. Selamat mencoba.

WTF: Bagaimana Indonesia “ditemukan”? SEO for Academics

Dasapta Erwin Irawan,

Institut Teknologi Bandung

loupe

Gambar 1 Loupe dari flickr/alainbachellier

Tulisan pendek ini adalah lanjutan dari tulisan saya berjudul Mengangkat nama Indonesia dari tulisan. Bila ingin format pdf-nya, bisa mampir ke [sini]{http://goo.gl/9PJpWD). Kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana Indonesia ditemukan. Karena saya bukan ahli sejarah, maka kata-kata tersebut mohon tidak diartikan secara harfiah.

1 Pendahuluan

Memang bagian ini tidak wajib. Tapi saya suka dan harus membuat pendahuluan.

1.1 Search Engines

Apakah search engine itu?

Search engine adalah Google. Itu untuk mudahnya. Ini sebenarnya adalah aplikasi yang bertugas mencari dan menganalis apa saja yang dimasukkan penggunakan di kolom pencari (search column).

Apakah ada selain Google?

Ada:

  • Microsoft punya Bing
  • Buat yang lahir tahun 70-80an pasti kenal Yahoo, Altavista (sudah hilang), dan Lycos. Sepertinya masih ada.

1.2 Scientific databases

Apa lagi ini?

Kalau anda ingin mencari secara spesifik material sainfitik, anda bisa menggunakan scientific databases. Dua diantaranya adalah:

1.3 Bagaimana aplikasi itu bekerja?

Kalau bertanya secara teknisnya, saya tidak bisa menjawab, karena bukan lulusan IT atau computer science. Yang jelas aplikasi-aplikasi tersebut akan mencari kata kunci yang telah dimasukkan oleh pengguna.

Mereka akan membuka database dan mencocokkan dokumen mana yang mengandung kata kunci itu.

1.4 Di bagian mana mencarinya?

Pertanyaan bagus. Di sinilah mulai saya bahas “bagaimana Indonesia ditemukan”

Let’s do a role playing.

2 Menemukan Indonesia?

Ready?…

Let’s do a role playing.

Sebut saja anda adalah mahasiswa S3 di salah satu perguruan tinggi (PT) di luar negeri (LN). Anda ingin meneliti tentang air tanah di Bandung, maka ia akan mencoba membuat literature review. Apa ini? Baca di sini, di sini, dan di sini.

Untuk itu ia mulai membuka beberapa database saintifik, sebut saja Google Scholar dan Scopus. Kalau ingin tahu lebih banyak, tentang Scopus bisa baca dan unduh slide saya di SlideShare.

Ia mulai mengetik beberapa kata kunci:

  • “air tanah Indonesia”
  • “air tanah Bandung Indonesia”
  • “air tanah Bandung”
  • dst

Apa yang sama dari ketiga kata kunci di atas? Lokasi bukan. Ia mungkin akan mencari informasi dalam skala Indonesia, kemudian turun ke skala Kota Bandung.

Apa yang ia harapkan muncul? Makalah ilmiah yang judulnya mengandung kata-kata Bandung dan atau Indonesia bukan.

Jadi begitu besar pengaruh menyebut lokasi dalam judul. Kalau anda menulis apa saja, yakinkan bahwa anda sudah menyebut lokasi dalam judul.

Di mana lagi kata-kata Indonesia ditemukan oleh mesin pencari?

Mungkin akan ditemukan di bagian abstrak. Jadi saat menulis yakinkan ada lokasi dalam abstrak anda.

Di mana lagi?

Di bagian kata kunci (keywords) yang biasanya di bawah abstrak.

Ada lagi?

Ya, di bagian afiliasi penulis. Kalau anda lihat makalah ilmiah, maka afiliasi penulis biasanya tertulis setelah nama penulis atau kadang di bagian bawah kiri halaman (lihat gambar berikut).

Paper

Gambar 2 Anatomi paper. Diambil dari akun ResearchGate saya

3 Bagaimana kondisi saat ini?

3.1 Jumlah publikasi ilmiah

Bagaimana kondisi saat ini? Berapa banyak paper atau makalah yang ditulis oleh orang Indonesia atau orang-orang yang berafiliasi Indonesia?

Saya sampaikan saja hasil kompilasi dari database Scopus oleh Prof. Hendra Gunawan (Guru Besar Matematika ITB) dalam tweetnya berikut ini.

tweet

Gambar 3 Daftar peringkat perguruan tinggi produktif dalam membuat paper (menurut database Scopus)

Mohon tidak melihat institusi, namun lihatlah Indonesia secara keseluruhan. Masih kalah jauh bukan dengan tetangga sendiri, Malaysia.

Oya, hasil tersebut sangat mungkin akan berbeda bila kita menggunakan database Google Scholar (GS) atau Microsoft Academics (MA).

Kenapa?

Karena Scopus utamanya mencari informasi berjenis peer-reviewed paper atau prosiding seminar yang didaftarkan ke Scopus, sementara pencarian GS dan MA tidak hanya pada dua jenis paper tersebut.

3.2 Jumlah mahasiswa Indonesia di luar negeri

Berapa jumlahnya? Mari kita lihat informasi berikut.

 Program ini merupakan program panjang yang berkelanjutan oleh LPDP, dimana setiap tahunnya mereka memberangkatkan 3.000 putra putri terbaik bangsa.

"Tahun 2015 nanti diperkirakan jumlah lulusan yang pulang mencapai 900 orang, dan target yang diharapkan pada tahun 2030, LPDP melahirkan 60.000 pemimpin bangsa," ujar Direktur LPDP, Eko Prasetyo.

Dikutip dari laman Facebook LPDP

Jumlah di atas hanya dari Beasiswa LPDP. Masih ada banyak beasiswa lainnya, dari

  • Dikti,
  • Biro Kerjasama Luar Negeri Dikbud (maaf masih menggunakan nama kementerian yang lama karena sering gonta-ganti),
  • dll.

Sekarang apa hubungannya jumlah mahasiswa di luar negeri?

Akan saya jelaskan. Sabar.

3.3 Jumlah mahasiswa di LN vs jumlah publikasi?

Bukankah bagus banyak anak muda Indonesia menuntut ilmu di luar negeri.

Apa hubungannya dengan jumlah publikasi yang rendah?

Saya tidak menyangsikan dampaknya kepada Indonesia. Saya hanya akan menyoroti satu elemen saja kegiatan ilmiah mahasiswa kita di LN.

Kegiatan apa itu?

Menulis makalah ilmiah.

Apa pula masalahnya?

Ingat gambar anatomi paper (Gambar 2) dan ingat pula bagaimana mesin pencari menemukan Indonesia. Salah satunya adalah di afiliasi penulis. Mari kita lihat beberapa kemungkinan berikut:

  • Kasus no 1: Sang penulis adalah mahasiswa di PT dalam negeri (DN) dengan lokasi penelitian di LN.

Tidak perlu dibahas, karena jarang sekali terjadi.

  • Kasus no 2: Sang penulis adalah mahasiswa di PT dalam negeri (DN) dengan lokasi penelitian di Indonesia.

Maka mestinya ia akan menuliskan kata-kata Indonesia pada bagian judul, abstrak, dan kata kunci makalah.

Maka Paper ini akan muncul dalam pencarian dengan kata kunci seperti di atas.

  • Kasus no 3: Sang penulis adalah mahasiswa di PT LN dengan lokasi penelitian di Indonesia

Maka ia akan menuliskan kata-kata Indonesia pada bagian judul, abstrak, dan kata kunci makalah.

Maka Paper ini akan muncul dalam pencarian dengan kata kunci seperti di atas, tapi tidak akan menambah jumlah paper berdasarkan institusi dalam daftar di Gambar 3.

Lho kenapa? akan saya jelaskan.

  • Kasus no 4: Sang penulis adalah mahasiswa di PT LN dengan lokasi penelitian di LN

Ini sangat sering terjadi.

Maka ia tidak akan menuliskan kata-kata Indonesia di bagian manapun dalam papernya.

Maka paper tersebut tidak akan muncul dalam pencarian dengan kata kunci seperti di atas.

4 Libatkan penulis yang berafilisasi lembaga di Indonesia

Kita akan fokus ke kasus no 3 dan 4. Pada kasus no 3, paper akan muncul dalam pencarian dengan kata kunci Indonesia tapi tidak akan menambah daftar pada Gambar 3, karena afiliasi yang tertulis dalam paper pasti afiliasi PT LN.

Untuk kasus no 4, paper hanya akan muncul bila penulis mencantumkan afiliasi lembaga Indonesia.

Bagaimana caranya?

Saat yang terpikir hanyalah melibatkan penulis dengan afiliasi lembaga di Indonesia. Idealnya si penulis tambahan ini harus bekerja di lembaga yang milik pemerintah Indonesia yang berlokasi di Indonesia. Ajak mantan pembimbing anda atau rekan anda yang sedang menuntut ilmu di Indonesia.

Tidak ada salahnya bukan.

Apakah supervisor anda di LN setuju?

Asal anda menyampaikan dengan baik, tidak ada alasan buat profesor itu untuk menolak. Selama urutan penulisnya betul.

** Kenapa?** baca tulisan saya tentang [Authorship}(http://goo.gl/yQZ9Tr) di sini dan di sini.

Jadi letakkan nama mitra penulis tambahan ini sesuai perannya, yang mestinya (most likely) akan jatuh di paling belakang. Tidak masalah bukan.

Dengan cara ini mesin pencari akan menemukan paper anda, one way or another.

5 Penutup

Begitulah cerita pendek ini. Cerita tentang Menemukan Indonesia. Mohon maaf bila masih banyak kesalahan (typos) dan kekurangan di sana-sini. Maaf juga gambar berukuran jumbo masih belum di-resize.

“Maklum masih draft 1”, kata mahasiswa saya yang sedang tugas akhir.

Salam, Erwin Institut Teknologi Bandung Find me on twitter (@dasaptaerwin)

Naskah ini dibuat dengan R-markdown.

#Google’s Anatomy (1.3) (in Indonesian Lang)

Google’s anatomy (cont)

Nah gambar ini memperlihatkan simbol “box” di bagian kanan artikel. Itu tandanya artikel bisa didownload. Umumnya dalam format pdf.
Kalau anda akses via PC atau laptop, simbol itu berubah menjadi tulisan “pdf available at …”.

…. Berisi lembaga atau website yang menyimpan pdf artikel tsb.

Sekian, terimakasih telah meluangkan waktu membaca.

Now back to quick count haha
Or whatever you’re doing.

Cheers

View on Path

#Google’s Anatomy (1.1) (in Indonesian Lang)

 

Malam minggu daripada hanya nonton TV bisa ikuti kulpet ini.

Coba lihat snapshot ini.
Lihat kata kuncinya (sdh pernah dijelaskan)
Lihat baris paking bawah (tulisan warna biru)

  • “cited by” menunjukkan jumlah artikel yang mensitasi artikel dengan judul di atasnya. Coba di klik atau ditap, apa yg keluar?

  • “related articles” menunjukkan artikel-artikel yang berkaitan dengan judul diatasnya. Bisa saja artikel yang sebidang atau yang daerahnya sama dll. Coba diklik.

  • “cite”, klik ini kalau andaningin mensitasi artikel tersebut. Coba diklik, isinya adalah format penulisan identitas artikel tersebut dalam berbagai format. Copy dan paste format tersebut dalam Daftar Pustaka anda.
    Kalau anda mengakses GScholar dari desktop PC atau laptop, maka tombol ini berubah namanya menjadi “import to BibTeX”. Gunakan ininkalau anda menggunakan app reference manager (seperti EndNote, JabRef atau mendeley). Coba diklik, maka anda bisa lihat format BibTex bisa diganti menjadi format EndNote atau RIS atau txt.

  • “save”

View on Path

Google’s {not Grey’s} Anatomy

slide

(from personal collection)

Dear friends, I write this post related to the previous post:

  1. Bibliography Part 1: One more thing about Bibliography
  2. Bibliography Part 2: Playing with your keywords

Our subject today is Google Scholar. It was a a freely accessible web search engine that specialises in indexing scholarly literature across an array of publishing formats and disciplines. The beta version of it was released in November 2004.

What it does? It indexes peer-reviewed online journals of Europe and America’s largest scholarly publishers, books and other non-peer reviewed journals. Then its scope was broaden to literature entries from across the globe.

The following list is the complete list of what will show up on your screen as soon as you hit enter:

  1. Articles in conventional1 peer-reviewed journals (eg: Journal of Hydrology, Journal of Environmental Earth Science, etc).
  2. Articles in open access2 peer-reviewed journals (eg: Hydrology and Earth System SciencesEnvironmental Research Letters, etc)
  3. Books and or e-books (eg: Time Series eBookForecast eBook)
  4. Articles in conference proceedings (eg: European Geosciences UnionAmerican Geophysical Union, etc)

All the above three entries are called published materials. Number 1, 2 are your main targets and number 3 is the next best thing. You can use number 4 only if it has the full paper, not just the abstract. However, you can always cite them if you feel like you understand the abstract completely.

Whereas the following list is the non-published materials:

  1. Thesis, dissertations. Authors have all the rights to upload their thesis on their blogs or other website.
  2. Project reports. Some institutions make their reports available for download. Some are in the form of executive summary, but many times you would find a complete report uploaded in pdf format.
  3. Newspaper articles.
  4. Personal blogs (eg this blog, Budi RahardjoWaskita AdijartoKieran Healy’s blogRob Hyndman. This is another thing that I want to say. Everyday I find more and more prominent researcher maintains a blog about their work.

See you in the next post: Google’s Anatomy-2


  1. Conventional journal: free for authors, but readers must pay to download 
  2. Open Access journal: free for readers, but authors must pay for submission 

 

— This post was written using: Re-Text on Ubuntu 13.10 —

WTF: Playing with your keywords (Bibliography Part 2)

Bibliography Part 2: Playing with your keywords. A Google Scholar examples

Irawan, D., Andriyanti, Setiawan, I. and Debrian, R. (2014). Bibliography Part 2: Playing with your keywords. A Google Scholar examples. [online] My little online books. Available at: http://goo.gl/fYT7dW [Accessed {your access date}].

1. Intro

Dear friends,

We’ve talked about how overwhelming it is  to use un-planned keyword in your research. Tonnes of links with no idea on how to screen in it. Well that’s why we call it brainstorming (have a look at this here).

This post is related to the previous post:

  1. Bibliography Part 0: Why is it important (In Indonesia language)
  2. Bibliography Part 1: First search is always overwhelming

I tried out these keywords on Google Scholar and captured the results as see in the following images:

  1. geothermal west java
  2. geothermal (AND) west java
  3. geothermal (IN TITLE) west java

2. geothermal west java

Use the above keywords if you want to see the broad image of the subject geothermal (AND/OR) west java. Google Scholar (Gscholar) will look for any entries with the both words online. So you would see all materials with both words or individual word anywhere in the text (see Figure ref{Figure 1}):

  • could be in the title,
  • could be in the abstract,
  • or it could be in the body text
Fig 1: Keyword groundwater west java
Fig 1: Keyword groundwater west java

3. geothermal (AND) west java

Use these keywords with (AND) operator to command Gscholar to only look for materials with both words anywhere in each entries. You can see a total of 5940 results. Kind of give you a major headache doesn’t it. But the first 5 to 10 result pages will show only you materials with both keywords, and then you can see that the later pages show only one of the keyword (see Figure ref{Figure 2}).

Fig 2: Keyword groundwater (AND) west java
Fig 2: Keyword groundwater (AND) west java

So there you go, your first screened Gscholar results.

4. geothermal (IN TITLE) west java

Use these keywords with (IN TITLE) operator to command Gscholar to only look for materials with both words in the title on each entry (see see Figure ref{Figure 3}).

Fig 3: Keyword groundwater (IN TITLE) west java
Fig 3: Keyword groundwater (IN TITLE) west java

I recommend to use this operator for initial search to increase the chance of getting what you need.