Potential future research: connecting water quality to food safety

Connecting water quality to food safety

Introduction

This post is a preliminary notes on our discussion about relationship between water quality and food security (safety). We are writing a proposal for SSEAC University of Sydney Grant (A/Prof Willem Vervoort).

Currently we are re-writing this proposal to be submitted formally to Journal of Regional and City Planning.

Diarrhoea is the 6th most common disease in Bandung area. The annual number of diarrhoea case has been relatively stagnant in the last five years. Recent study announced the double burden of malnutrition occurs in Indonesian children. It describes the prevalence of both under nutrition and over nutrition in the same place at the same time. Therefore children and women suffer the most in this health situation.

Continue reading Potential future research: connecting water quality to food safety

Slide decks for Semnas ITB Presentation: Promoting open groundwater data

Hello readers,

Following my previous post, here’s the slides related to that abstract. All materials are stored in this OSF repository. It’s an open and free to use repository. Sign up a free account here. You can also sign up using ORCID account.

We also recommend you to visit the following two slides by Jack Dangermond (2013) from The British Cartography Society and Prof. Boulos (2009) from University of Plymouth UK.

 

Some visualisations of Bandung water quality data

Here I learn some more type visualizations to understand groundwater behavior based on groundwater quality data set. I have 142 data points of water quality data measured in 2015. The dataset can be downloaded from our OSF repository. Currently we are on our way in writing a paper out of the data set based on multivariate analysis. I use free apps to produce all plots. I will add the plots as I move along in the analysis.

Continue reading Some visualisations of Bandung water quality data

Pembangunan sistem informasi pengelolaan air tanah Kota Bandung

SEMINAR NASIONAL ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN SENI, GEDUNG CRCS ITB 19-20 APRIL 2017

  1. JUDUL PENELITIAN: Pembangunan sistem informasi pengelolaan air tanah Kota Bandung
  2. PENULIS: Dr. Dasapta Erwin Irawan, Dr. Nur Ulfa Maulidevi, Dr. Rusmawan Suwarman, Irsyad Kharisma, ST.MT., M. Fadli, ST., Ahmad Darul, ST., MT., dan Anggita Agustin, ST., MT.
  3. ABSTRAK :

Pendahuluan: Data adalah salah satu output kegiatan riset yang sangat penting, namun belum terekspose secara maksimal di dalam laporan. Hal yang sama terjadi dalam kegiatan pengelolaan air tanah. Data hadir dalam bentuk dokumen tercetak, dan bila pun berbentuk soft file, ia tersimpan dalam format pdf yang tidak siap pakai. Secara spasial, data-data tersebut hanya muncul sebagai peta offline, sehingga sulit untuk dicari. Berdasarkan kepada kondisi tersebut, riset ini bertujuan untuk membuat peta data sederhana yang nantinya dapat digunakan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan air tanah, menggunakan sumber daya piranti lunak (P/L) yang gratis, open source, dan memiliki fasilitas peta online.

Metode: Metode yang digunakan dalam riset ini adalah 1) pengumpulan berbagai laporan kajian air tanah dan kurasi data; 2) survey validasi koordinat data; 3) mencari P/L GIS desktop dan repositori online yang gratis dan open source untuk digunakan sebagai media manipulasi data awal, 4) setup sistem dan input data, dan 5) visualisasi data. Seluruh sumber daya yang digunakan dalam sistem ini bersifat gratis dan open source. Kami menggunakan Open Street Map (OSM) untuk setup peta, serta QGIS desktop, dan QGIS cloud untuk piranti lunak GIS.

Hasil: Tim berhasil mendapatkan kurang lebih 200 titik data sumur akuifer dangkal dengan kurang lebih 15 parameter pengukuran yang terdiri dari parameter fisik dan kimia air. Dari data tersebut sebanyak 50 titik kemudian dikunjungi secara acak untuk menguji validitas koordinat. Data-data tersebut kemudian diplot di atas OSM dan diolah menggunakan piranti lunak QGIS desktop, sebelum pada akhirnya diunggah ke QGIS cloud pada tautan QGIS cloud Bandung.

Diskusi: Sistem QGIS desktop dipilih berdasarkan survey sederhana (tautan Google Forms) kepada 68 (target 100) mahasiswa (terdiri dari mahasiswa S1, S2, dan S3) tentang P/L GIS open source yang pernah mereka pelajari dan/atau mereka pakai sampai saat ini. Dua P/L yang kami ajukan kepada responden adalah QGIS dan GRASSGIS. Hasilnya 97% mahasiswa memilih QGIS dengan pertimbangan paling mirip interface nya dengan P/L berbayar yang sebelumnya dan/atau selama ini mereka pakai (ArcGIS/Mapinfo). Selain gratis, QGIS juga dipilih karena minimnya aspek pemrograman dalam pengoperasiannya. QGIS memiliki sistem online yang juga gratis dengan kapasitas data maksimum sebesar 1 GB. Kapasitas selebihnya berbayar. Pada sisi kurasi data, kendala ditemukan dalam hal format data. Format data binary (seperti xls) dengan format pengisian data yang tidak sama. Tim perlu direformat layout tabel agar dapat disatukan. Format yang diusulkan adalah ASCII csv (Comma Separated Values) agar mudah dibuka oleh berbagai P/L olah tabel. Sebagai satu kesatuan, tim juga merekomendasikan repositori terbuka OSF dari Center for Open Science yang gratis dan dapat dihubungkan dengan Google Drive serta Github dengan baik. Seluruh data dianjutkan untuk diunggah ke repositori ini agar mudah dicari, memiliki kode DOI sehingga memiliki persistent online link serta dapat dibuka secara luas kepada masyarakat dengan lisensi CC-BY.

Kesimpulan: Bahwa sistem QGIS dan QGIS cloud dinilai dapat memenuhi kebutuhan input data dan visualisasi kondisi data air tanah di Kota Bandung. Sistem ini perlu pengembangan dengan melibatkan lebih banyak webGIS programming menggunakan bundle aplikasi BoundlessGeo yang juga gratis dan open source. Beberapa output yang telah dihasilkan: 1) QGIS cloud Bandung; 2) Repositori data OSF (doi: 10.17605/OSF.IO/TMJXZ); 3) Slide paparan ke Pemkot Kota Bandung (19 Mei dan 25 November 2016), 4) Manuskrip berjudul “DOUBLE BURDEN” GROUNDWATER MANAGEMENT IN BANDUNG POST-WITHDRAWAL UU NO 4/2007: A CASE FROM BANDUNG” yang sedang dalam proses layout Jurnal Sosial dan Humaniora (DOAJ), serta manuskrip berjudul “The status of low cost GIS system implementation in higher education in Indonesia: a case from Institut Teknologi Bandung (2nd review Journal of Spatial Information Science” (tautan Overleaf).; 4) Tutorial QGIS for Linux user (tautan Figshare doi:10.6084/m9.figshare.4249385.v4).

Screenshot tampilan QGIS cloud berisi berbagai data air tanah Kota Bandung

Optimalisasi Fungsi Sistem Kanal Banjir Timur Semarang sebagai Ruang Terbuka Hijau dan Pengendali Banjir

SEMINAR NASIONAL ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN SENI GEDUNG CRCS ITB 19-20 APRIL 2017

 

  • TITLE OF RESEARCH: Optimalisasi Fungsi Sistem Kanal Banjir Timur   Semarang sebagai Ruang Terbuka Hijau dan Pengendali Banjir
  • AUTHORS:   Alecia Artita Midori, ST., Ir. Budi Faisal, MAUD., MLA., Ph.D, and Dr. Dasapta Erwin Irawan
  • LOCATION: Kanal Banjir Timur Semarang (Ruas Jalan Majapahit-Jalan Kaligawe)
  • EXTENDED ABSTRACT:

Sistem Kanal merupakan salah satu cara yang dianggap efektif dalam mengendalikan masalah banjir. Namun, dilihat dari aspek lingkungan, sistem kanal dianggap tidak memperhatikan keberlangsungan lingkungan dan cenderung merusak ekosistem alamiah sungai. Kanal Banjir Timur berfungsi sebagai pengendali banjir yang saat ini tidak dapat berfungsi secara optimal sehingga menyebabkan banjir di daerah Semarang Timur. Normalisasi sungai diambil sebagai solusi oleh Pemerintah Kota Semarang untuk meningkatkan daya tampung Kanal Banjir Timur.  

Normalisasi dengan membangun sistem kanal berbeton dirasa kurang memperhatikan aliran air secara alamiah, karena akan menghilangkan ekosistem bantaran sungai. Selain itu, air juga akan langsung dialirkan ke laut tanpa mengalami proses infiltrasi terlebih dahulu.  Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan Ruang Terbuka Publik Baru yang dihasilkan melalui proses Perancangan Ekologi Lanskap dengan penerapan teori naturalisasi  sungai yang dianggap lebih baik dalam menyelesaikan masalah banjir dan lingkungan.

Penataan Kanal Banjir Timur diusulkan dengan menaturalisasi aliran kanal dengan dasar kanal tak berbeton agar air yang mengalir dapat diserap dan ditampung terlebih dahulu sebelum dialirkan ke laut. Selain menciptakan sungai yang lebih natural akan tercipta suatu ruang terbuka publik baru berupa ruang terbuka hijau dan danau retensi yang dapat dinikmati oleh masyarakat sebagai atraksi wisata baru di Semarang. Kami juga mengusulkan adanya kolam-kolam penampungan air, sebagai lokasi “transit” air sebelum diinjeksikan ke dalam lapisan akuifer dalam.

Kata-kunci: Ekologi Lanskap, Ruang Terbuka Publik, Naturalisasi Sungai

Screenshot-from-2017-03-27-05-47-36-300x251

Penelitian ini telah dibuat sebagai media release di situs SPS ITB.

Mengorek jumlah makalah berbahasa Indonesia dalam basis data DOAJ dan hubungannya dengan parameter lainnya dari data Bank Dunia

Berawal dari “Negara penghasil ilmu pengetahuan”

Saya sangat tertarik dengan blog post Prof. Hendra Gunawan tentang “Negara penghasil ilmu pengetahuan”. Di dalamnya mentor saya ini menyampaikan data yang diambil dari basis data ScimagoJR.

Continue reading Mengorek jumlah makalah berbahasa Indonesia dalam basis data DOAJ dan hubungannya dengan parameter lainnya dari data Bank Dunia

Beban ganda (double burden) regulasi air tanah di Indonesia

Saat ini saya sedang mengusulkan kenaikan jabatan dari Lektor ke Lektor Kepala. Beberapa waktu lalu saya menerima informasi bahwa dokumen usulan saya memiliki kekurangan makalah yang dimuat dalam jurnal nasional terakreditasi.

Kebetulan saya bersama beberapa rekan pernah diminta melakukan telaah akademik mengenai perda pengelolaan air (khususnya air tanah), kemudian jadilah makalah berikut ini (lihat citation info di bawah).

Paper sedang dalam proses peer-review pada Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora dan kami unggah sebagai Preprint di Zenodo (tautan ada di bawah).

Kami memberi judul “double burden” karena memang regulasi yang mengatur pengelolaan air (dan air tanah) terganggu oleh dua hal:

  1. Pembatalan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air oleh Mahkamah Institusi
  2. Perubahan kewenangan pemerintah daerah dalam UU No. 23 Tahun 2014.

Belum sempat UU yang baru terbit, ada UU berikutnya yang menarik kembali kewenangan pengelolaan air dari kabupaten/kota ke provinsi (lihat gambar di bawah ini).

diagram

Baca juga: Quo vadis pengelolaan air tanah yang diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI).

Cite as: Irawan, Dasapta Erwin, Darul, Achmad, Sumadi, Hendy, Argo, Teti Armiati, & Nurhayati, Yunie. (2017, March 3). BEBAN GANDA (DOUBLE BURDEN) PENGELOLAAN AIR TANAH DI KABUPATEN/KOTA PASCA PEMBATALAN UU NO 7/2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR: ILUSTRASI DARI KOTA BANDUNG. Zenodo. http://doi.org/10.5281/zenodo.345418