Mengorek jumlah makalah berbahasa Indonesia dalam basis data DOAJ dan hubungannya dengan parameter lainnya dari data Bank Dunia

Berawal dari “Negara penghasil ilmu pengetahuan”

Saya sangat tertarik dengan blog post Prof. Hendra Gunawan tentang “Negara penghasil ilmu pengetahuan”. Di dalamnya mentor saya ini menyampaikan data yang diambil dari basis data ScimagoJR.

Continue reading Mengorek jumlah makalah berbahasa Indonesia dalam basis data DOAJ dan hubungannya dengan parameter lainnya dari data Bank Dunia

Beban ganda (double burden) regulasi air tanah di Indonesia

Saat ini saya sedang mengusulkan kenaikan jabatan dari Lektor ke Lektor Kepala. Beberapa waktu lalu saya menerima informasi bahwa dokumen usulan saya memiliki kekurangan makalah yang dimuat dalam jurnal nasional terakreditasi.

Kebetulan saya bersama beberapa rekan pernah diminta melakukan telaah akademik mengenai perda pengelolaan air (khususnya air tanah), kemudian jadilah makalah berikut ini (lihat citation info di bawah).

Paper sedang dalam proses peer-review pada Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora dan kami unggah sebagai Preprint di Zenodo (tautan ada di bawah).

Kami memberi judul “double burden” karena memang regulasi yang mengatur pengelolaan air (dan air tanah) terganggu oleh dua hal:

  1. Pembatalan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air oleh Mahkamah Institusi
  2. Perubahan kewenangan pemerintah daerah dalam UU No. 23 Tahun 2014.

Belum sempat UU yang baru terbit, ada UU berikutnya yang menarik kembali kewenangan pengelolaan air dari kabupaten/kota ke provinsi (lihat gambar di bawah ini).

diagram

Baca juga: Quo vadis pengelolaan air tanah yang diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI).

Cite as: Irawan, Dasapta Erwin, Darul, Achmad, Sumadi, Hendy, Argo, Teti Armiati, & Nurhayati, Yunie. (2017, March 3). BEBAN GANDA (DOUBLE BURDEN) PENGELOLAAN AIR TANAH DI KABUPATEN/KOTA PASCA PEMBATALAN UU NO 7/2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR: ILUSTRASI DARI KOTA BANDUNG. Zenodo. http://doi.org/10.5281/zenodo.345418

Basi vs kolaborasi

Blogging your science doesn’t necessarily degrade the value of your results. It attracts attentions and feedbacks. The second best thing is, still, it will attract more attentions and feedbacks. That way you can have more confident and more iterations in the analysis when you write it as a formal article. That’s how you should be working on your science these days.

Instead of making your work obsolete, blogging attracts collaboration

If you say, “blogging your research will make it obsolete (basi)”, well I might say the other way around. It will bring collaboration (kolaborasi). Put it this way. The more people involve in your work, the more thoughts you can gather, and the more information you can harvest.

Blogging avoids of getting scooped

Getting scooped is when your ideas or your work (part of complete version), is done by someone else before you can even finish it.

  • One case, someone might look at your data without you know it, then use it in his/her analysis and finish it way faster than you.
  • Another case, someone doesn’t know you and know your work, coincidentally work on the same thing as you do, and finish it before you do.
Icecream ball
Credit: Flickr/cascadianfarm (CC-BY-NC)

Let put it again in another perspective. You will create time stamp and by blogging your results. Any article based on the same ideas and writing published after that time stamp and it doesn’t acknowledge your work, then it should be thoroughly questioned.

On the other side, we’re dealing with the long and winding road of peer-review process. It can take a while, since you submit your paper until a stamp says “Accepted”, arrived in your mailbox.

One might say to you, “don’t blog your results before having them written in a peer-reviewed article” or “you might got scooped”, or “your ideas might got stolen” etc. Well they may have their point. But, having it openly accessible, will make your work got noticed by the community and let them build their based on yours.

Unless well, if you’re a CERN scientist working on some colliding atoms to make a secret new source of energy. Which is unlikely. We’re just an ordinary scientists, looking of ways to contribute our knowledge to society. No more, no less.

Here’s a good video from Gary King, a Harvard professor, to convey my above-mentioned message. I found this video in this post: The fear of being scooped: share your work.

Proyek crowd-source article kedua

Crowd-sourced paper pertama sedang ditranslate ke Bahasa Inggris (tautan Preprint di Zenodo).
Sekarang saya coba menginisiasi paper crowd-source kedua judul sementaranya kira-kira “The status of low cost GIS software implementation in higher education in Indonesia”. Menceritakan kondisi dan minat menggunakan software GIS open source di Indonesia (tergantung, respon, ini kalau respon berasal dari seluruh Indonesia).
Riset kecil-kecilan ini berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan untuk  mahasiswa S1, S2, dan S3 dengan pertanyaan yang sama. Intinya kita akan bandingkan kemampuan mahasiswa S1, S2, S3 (unsupervised dan self-assessement) dalam mereplikasi proses yang biasa mereka lakukan dengan software GIS berbayar (proprietary) seperti ArcGIS ke dalam lingkungan software GIS open source, dalam hal ini akan dibatasi QGIS dan GRASS. Keduanya saya pilih karena maturitasnya, sudah lama dikembangkan dan telah memiliki versi stabil (stable version).
Hipotesis saya:
  1. mahasiswa S1 lebih banyak yang mendengar tentang software GIS open source dan berminat untuk migrasi dibanding mahasiswa S3,
  2. mahasiswa S1 lebih banyak yang berminat untuk migrasi ke software open source dibanding S3,
  3. bagi yang berminat, QGIS adalah yang paling banyak dipilih, karena lebih tidak memerlukan keterampilan pemrograman (programming skills).
Untuk yang sudah berstatus dosen silahkan memberikan masukan untuk kuesioner. Untuk yang masih berstatus mahasiswa, siap-siap jadi responden yaaaa.
Link kuesioner di tautan Google Form ini.
 
Riset tidak harus mahal!
 
Hashtagnya #lowbudgetresearch

Mining PLOS and PubMed data

Intro

This post was inspired from Jon Tennant’s post on his blog (here). He was talking about the number of papers on paleontology field published in PLOSone. His post was mainly based on his code using `rplos` package (Github repo/CRAN repo) from `ropensci` community. Jon’s post was kind of fire up my R life again, especially in the field of text mining. So in this post, I will connect this original post with my research about analyzing biodiversity of Cikapundung riverbank area (on Figshare).

Continue reading Mining PLOS and PubMed data

Beberapa masukan RUU Pengelolaan kekayaan negara

Beberapa masukan RUU Pengelolaan kekayaan negara

Oleh Dasapta Erwin Irawan dan Bambang Edi Leksono

Wakil Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB dalam acara Focus Group Discussion, Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) di ITB (Jumat, 17 Februari 2017)

Disclaimer: Catatan ini tidak menggambarkan masukan kami secara lengkap, catatan ini dibuat sebelum acara dan akan bertambah/berkembang saat diskusi dilaksanakan.

Pendahuluan

Pada hari Jumat 17 Februari 2017 diadakan Focus Group Discussion di ITB yang diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) dengan obyek diskusi RUU tentang Pengelolaan Kekayaan Negara. Bapak Bambang Edi Leksono dan saya diminta oleh pimpinan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian untuk memberikan beberapa catatan. Salah satu obyek yang dikelola dalam kelompok sumber daya alam adalah air, mencakup air hujan, air permukaan, dan air tanah.

Continue reading Beberapa masukan RUU Pengelolaan kekayaan negara

Data story teller

Menceritakan data seperti dongeng sebelum tidur

Beberapa hari ini saya sering kali mendengar kata data story teller. Profesi baru katanya dengan pekerjaan utama membuat data analisis terdengar seperti dongeng sebelum tidur. Ya data selama ini hanya berakhir dengan grafik statis. Bahkan kalupun sudah jadi grafik dinamis pun, kita sering belum dapat membuat kisah menarik darinya.

Continue reading Data story teller