WTF: Daftar bacaan vs daftar pustaka (reblog)

8815739061_9198175166_z

 

 

 

 

(image: flickr/mypandorasbox, CC licensed)

Cerita ini awalnya ditulis dalam perjalanan, Bandung-Balikpapan-Bandung akhir tahun lalu. Sudah pernah dipublikasikan sebagai blogpost tapi dengan sangat banyak typos. Saya telah perbaiki typos dan tambah pada beberapa bagian untuk menjadi tulisan ini.

Daftar pustaka itu penting dan bukan sekedar formalitas atau sebuah bab di halaman paling akhir dari tugas akhir atau paper anda. Seperti yang telah saya sampaikan dalam beberapa posts “Mengapa daftar pustaka penting?”, “Memulai skripsi dari daftar pustaka”, dan “Ctrl-F”, sangat penting untuk memperhatikan Daftar Pustaka (DF). Tapi ada lagi istilah yang lain, Daftar Bacaan.

Apa lagi ini?

Jangan panik dulu. Ini hanyalah daftar materi yang telah anda baca. Jadi belum tentu anda pakai sebagai rujukan dalam teks. Apapun yang telah anda temukan, yang telah anda baca masuk ke dalam kategori ini. Mungkin hasilnya ada 50 item bacaan.

Setelah itu apa?

Setelah itu anda seleksi, mana yang relevan dengan konteks makalah, penelitian, atau apapun yang sedang anda tulis.

Stop sarapan dulu ya

Apa saja kriteria “relevan”?

Menurut Peat et.al (2002) dalam bukunya Scientific writing is easy: when you know how dan pengalaman saya, maka ada beberapa kriteria:

  1. relevan dari sisi lokasi geografis: kita bekerja di bidang ilmu kebumian, jadi lokasi geografis sangat penting sebagai salah satu kunci (baca juga Bagaimana Indonesia “ditemukan”?
  2. relevan dari sisi metode: coba anda cari bahan-bahan yang sama atau mirip dari sisi metode dengan apa yang akan anda lakukan.
  3. relevan dari sisi hasil: coba anda buka hipotesis anda, kemudian cari bahan yang hasilnya mirip atau sama dengan hipotesis anda.

Daftar Pustaka bisa jadi lebih sedikit dibanding Daftar Bacaan. Seleksi dilakukan dengan cara membaca kritis (critical reading) bahan-bahan bacaan kita. (apa pula ini? kapan-kapan ya)

Membaca kritis sangat diperlukan karena alur pikir sangat dikendalikan oleh apa yang telah kita baca. Jadi benar kata orang (entah siapa), bahwa untuk menulis dengan baik, seseorang harus banyak membaca.

Celaka 12 bukan.

Setelah itu lalu?

Setelah daftar bacaan anda seleksi, maka itu adalah calon Daftar Pustaka anda. Kemudian anda tinggal sisipkan item tersebut dalam teks anda. Tentunya lokasi penyisipan harus relevan dengan aliran cerita dalam teks.

Loops

Akan ada tiga tahapan: pencarian literatur (literature search) untuk membuat daftar bacaan (reading list), penyaringan daftar bacaan (filter), membuat sitasi dalam teks (in-text citation) untuk membuat daftar pustaka (Reference list/bibliography). Alur tahapan ini bisa bersifat linear, sekaligus juga loop (siklus) yang berulang. Loop bisa besar dari bawah ke atas untuk mengoreksi tahapan literature search atau loop kecil yang mengoreksi in-text citation.

BibliographicalLoop

 

 

 

 

BibliographicalLoop (pdf format)

Apa perkakas (tools) yang diperlukan?

Oya supaya lebih otomatis (baca: keren) gunakan tools reference library dlm piranti lunak pengolah kata anda. Sudah ada kok sejak jaman WordStar dan ChiWriter (maaf buat yg ngerti pasti hanya generasi 80 dan 90 an). Kita saja (termasuk saya) yang tidak pernah tahu atau belajar menggunakan fasilitas ini. Jadi ceritanya kalau kita sebut nama suatu artikel dalam teks, maka secara otomatis identitas makalah tersebut akan  muncul si bagian akhir dokumen di bab daftar pustaka.

Stop dulu boarding ya 🙂

Kalau sekarang ada Zotero dan Mendeley yang free, atau kalau anda sedang studi di LN, kebanyakan akan menyediakan lisensi EndNote untuk mahasiswa. Ikut kursus saya Reference Management ya.

Beberapa tahun yang lalu saya sempat mengunggah (upload) tutorial bagaimana menggunakan fasilitas itu di Microsoft Word, silahkan buka menu Download di website ini atau di derwinirawan.wordpress.com. Kembali ke bahasan kita.

Menulis is a matter of precision (walaupun saya masih sering juga ditegur istri saya, yang juga sering jadi proof reader). Ini berlaku di semua bagian dalam karya ilmiah, termasuk urusan daftar pustaka, membuat sitiran, merujuk gambar, merujuk tabel, serta bagian ucapan terimakasih (acknowledgement) (ini yang sering lupa). Kapan-kapan saya akan tulis mengenai hal ini dalam serial (W)riting’s (T)otally (F)un.

Penutup

Jadi jelas ya ada daftar bacaan (reading list) ada pula daftar pustaka (bibliography atau references). Jelas bedanya, tidak semua yang ada dalam “Daftar Bacaan” ada dalam “Daftar Pustaka“.

Setiap frasa, pendapat, analisis harus jelas milik siapa. Kalau milik penulis lain, maka yakinkan namanya ada dalam tulisan dan daftar pustaka kita. Bila tidak ya siap-siap dituduh plagiat atau penjiplak. Suatu tuduhan yang sungguh berat untuk kesalahan yang sepele dan hanya perlu sedikit waktu yang disisihkan untuk memeriksa teks/naskah. Modalnya hanya Ctrl-F.

Walaupun kita selalu inginnya Ctrl-Alt-Del terus Power Off hehe.

Selanjutnya, mengapa kita melakukan riset … (sarapan dulu)

Lho bukannya tadi sudah?

Ini sudah beda hari.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s