Saatnya mahasiswa mengoreksi tulisan dosennya

  • Sekarang saatnya mahasiswa mengoreksi tulisan dosennya. Buku yang dikomentari berjudul HIDROGEOLOGI UMUM terbitan Penerbit Ombak. Seluruh masukan ini akan kami masukkan ke dalam edisi selanjutnya.
    Mahasiswa yang mengoreksi adalah:
    Bagus Dwi Kurniawan 12014017
    Syeha Abdal Nasher 12014007
    Nabila Novasari Soviana 12014041
    Ahmad Fahri Habibi 12014047
    Himerius Canggara 12014037
    Reza Muhammad W. 12014032
    Bintang Rajasanegara 12014043
    Ardiansyah Prasidya H. 12014055
    Rikza Nur Faqih A. 12014050
    Ahmad Nazar Abrory 12014057
    BAB 1
    1. Pada halaman 1 alangkah baiknya sebelum memasuki sub bab sejarah
    diberikan pengertian terkait pengertian ilmu hidrogeologi.
    2. Pada halaman 1, Pertanyaan mendasar (FAQ), nomor 1. Sebaiknya
    dijelaskan maksud dari kata “awalnya” mungkin lebih baik dengan
    “Bagaimana awal terbentuknya?” supaya tidak menimbulkan ambiguitas.
    Serta pada no. 2 alangkah baiknya jika kata “bedanya” diganti dengan
    “perbedaan”.
    3. Sub bagian Tugas Kerja Mandiri akan lebih baik jika ditempatkan pada suatu
    kotak / kolom supaya membedakan dengan pokok bahasan materi, sehingga
    memudahkan mahasiswa dalam membedakan tugas dan materi.
    4. Pada halaman 2, subbab C yang menjelaskan Abad ke – 19 perlu
    ditambahkan penjelasan terkait dengan hidrogeologi kuantitatif sehingga tidak
    langsung masuk pada penjelasan teori Darcy.
    5. Masih pada halaman 2 subbab D tentang Zaman Modern terdapat
    kebingungan tentang artikel serta makalah yang dikemukakan C.V. Theis
    karena tidak menjelaskan artikel atau makalah yang diterbitkan sehingga
    penjelasannya kurang detail.
    6. Pada halaman 4 subbab Keilmuan Hidrogeologi bagian Pilar Ilmu Geologi
    pada poin poin komponen alagakah baiknya jika diakhiri dengan titik
    sehingga benar benar merupakan poin poin komponen bukan suatu paragraf
    lanjutan.
    7. Pada halaman 5, bagian Pilar Ilmu Hidrologi, karena merupakan poin poin
    maka hendaknya diawali dengan huruf besar.
    8. Pada halaman 5, subbab G, penempatan kutipan (Puradimaja, 2006)
    posisinya kurang tepat sebaiknya diletakkan pada sebelum kata “mencakup”
    atau malah setelah kata “di bawah ini”.
    9. Pada halaman 5, subbab G, bagian 1. Penulisan judul bagian kurang
    memperhatikan huruh kapital sebaiknya ditulis “Penyediaan Suplai Air Bersih”
    10.Pada halaman 7, bagian Eksplorasi seharusnya pada poin a dan b tidak perlu
    dibedakan dengan huruf tebal pada poin b, cukup dengan penulisan yang
    miring saja.
    11.Pada halaman 8, Daftar pustaka hendaknya diberikan keterangan penerbit,
    lokasi terbit atau atau lokasi seminar. Pada pustaka online apabila dijumpai
    penulis website hendaknya dicantumkan beserta tahun publikasinya.
    BAB 2
    1. Pada halaman 9, kalimat “seperti dalam gambar berikut ini” lebih baik diganti
    dengan “seperti dalam gambar 2.1”.
    2. Pada halaman 10, tanda koma kalimat ke 2 baris ke 3 lebih baik diganti tanda
    titik.
    3. Pada halaman 12,dalam siklus hidrologi, tidak ada awal maupun akhir,
    karena semuanya saling berkelanjutan.
    4. Pada halaman 13, kalimat “(lihat Gambar 2.3.berikut ini)” lebih efektif diganti
    “(lihat Gambar 2.3)
    5. Pada halaman 17, keterangan gambar citra dari google earth diberikan
    indeks “Gambar 2.7 “
    BAB 3
    1. Halaman 24, gambar 3.3 terlalu kabur untuk dibaca.
    2. Pada halaman 25 paragraf ketiga, penulisan menetes tidak perlu
    dimiringkan
    3. Pada halaman 25, pada bagian catatan, pada poin c terdapat kesalahan
    pengetikan indentasi.
    4. Pada halaman 25, pada bagian catatan, pada poin e, penulisan
    permukaan tananh dan berinfiltrasi baiknya tidak dimiringkan.
    5. Pada halaman 26 paragraf ketiga, terjadi perubahan jenis font.
    6. Pada halaman 26 paragraf terakhir, penulisan baseflow baiknya
    dimiringkan.
    7. Penulisan rumus pada halaman 26 dan 27 baiknya diberikan kode untuk
    mempermudah penggunaan.
    8. Pada halaman 27, paragraf kedua, tertulis “lain-laim” seharusnya “lain-
    lain”.
    9. Pada halaman 28, gambar 3.4, gambar 3.5, gambar 3.7 terlalu kabur untuk dibaca.
    10.Pada halaman 28, gambar 3.8 terlalu kabur untuk dibaca.
    11.Pada halaman 35, terdapat kesalahan formatting penulisan rumus
    sehingga rumus tertulis sebagai symbol yang tidak dapat dipahami.
    12.Halaman 39, pengetikan indentasi pada paragraf terakhir kurang baik.
    BAB 4
    1. Pengertian struktur geologi yang bapak cantumkan pada buku bapak
    sebenarnya hanya menjelaskan struktur geologi sekunder saja. Sementara
    struktur geologi primer adalah struktur yang terbentuk ppada saat
    pembentukan batuan.
    2. Sedikit saran tolong berikan petunjuk rujukan gambar, contoh : (sperti pada
    contoh gambar di bawah ini (gambar 4.2)
    BAB 5
    1. Cara pengutipan pada gambar lebih baik: Gambar 5.1. Konfigurasi akuifer
    tertekan dan muka air tanah pada sumur (Kruseman dan de Ridder, 1994).
    2. Media pori atau media berpori memiliki terjemahan dalam Bahasa Inggris
    porous medium. (Halaman 61)
    3. Penulisan yang benar bukan batu gamping tetapi batugamping. (Halaman
    61)
    4. Penulisan yang benar bukan batu pasir tetapi batupasir. (Halaman 60)
    5. Terdapat kesalahan penulisan seharusnya akuifer tetapi tertulis kifer.
    (Halaman 62)
    6. Penulisan rumus atau persamaan lebih baik menggunakan equation,
    misalnya:
    Hukum Darcy: K.A.dh/dl
    7. Daftar pustaka lebih baik ditulis semuanya di bagian akhir buku, bukan per
    bab.
    BAB 6
    1. Terdapat kesalahan penulisan pada halaman 68, paragraf pertama, kalimat
    pertama. Tertulis “…proses-proses di dalam air tanah yang berlangsung dan
    waktu ke waktu.” Seharusnya “… proses proses di dalam air tanah yang
    berlangsung dari waktu ke waktu.”
    2. Terdapat kesalahan penulisan pada halaman 68, paragraf terakhir, kalimat
    terakhir. Tertulis “Gradien temperatur udara didapatkan dari penghitungan
    perubahan tomperatur udara loka udara lokal terhadap ketinggian (lihat
    gambar berikut).” Seharusnya “Gradien temperatur udara didapatkan dari
    penghitungan perubahan temperatur udara lokal terhadap ketinggian (lihat
    gambar 6.1)”.
    3. Halaman 69, gambar 6.1 kurang jelas dan kurang besar ukurannya.
    4. Halaman 72, gambar 6.3 kurang jelas (tulisan blur).
    5. Terdapat kesalahan penulisan pada halaman 73, paragraf 2, kalimat pertama,
    tertulis “nilai konduktivitas merupakan fungsi antara temperatur, jenis ion-ion
    terlarut dan konsentrasi ion terfarut.” Seharusnya “nilai konduktivitas
    merupakan fungsi antara temperatur, jenis ion-ion terlarut dan konsentrasi ion
    terlarut”
    6. Terdapat kesalahan penulisan pada halaman 75, paragraf pertama, poin 1,
    kalimat ke-2. Tertulis “ Untuk mengetahui perbandingan jumlah
    masingmasing ion dalam larutan,…”. seharusnya “ Untuk mengetahui
    perbandingan jumlah masing-masing ion dalam larutan,…”.
    7. Terdapat kesalahan penulisan pada halaman 75, paragraf pertama, nomor 1,
    poin b. Tertulis “Konversi HCO3-154 mg/l ke satuan meq/;”. Seharusnya
    “konversi HCO3-154mg/l ke satuan meq/l;”. Lebih baik bila menyantumkan
    satuan pada setiap nilai yang memiliki satuan.
    8. Terdapat kesalahan penulisan pada halaman 75, paragraf terakhir, nomor 2,
    poin a. Tertulis “Pictorial diagram…” seharusnya “Pictorial Diagram
    9. Terdapat kesalahan penulisan pada halaman 76, paragraf terakhir, nomor 2,
    poin b. Tertulis “Multivarian Diagram” seharusnya “Diagram Multivarian
    atau ”Multivarian Diagram
    10.Halaman 76-77, gambar 6.5 kurang jelas.
    11.Terdapat kesalahan penulisan pada halaman 78, paragraf terakhir. Tertulis
    …fasies…” seharusnya tidak miring karena fasies bahasa Indonesia.
    12.Terdapat kesalahan penulisan pada halaman 79, nomor 3, kalimat ke-2.
    Tertulis “Klasifikasi ini berdasarkan penggunaan oleh manusia untuk
    keperluan rumah tangga (domestik), pertanian dan industri.” Seharusnya
    “Klasifikasi ini berdasarkan penggunaan oleh manusia untuk keperluan rumah
    tangga (domestik), pertanian dan, industri.”

 

 

 

Problem input csv data dalam R

Assalamu’alaikum wrwb. Selamat pagi R user.
Berbagai pengalaman saya saat menyimpan data dengan R. Memang belajar itu adalah pekerjaan setiap hari dan tidak kenal usia. Walaupun sudah menggunakan R sejak 2013 — “menggunakan” ya bukan “memprogram” karena saya memang bukan programmer🙂 — tapi masih saja banyak hal yang saya pelajari. Bahkan untuk hal-hal mendasar.
idiom-sleep-illustration-58365318
(gambar dipinjam dari sini)
Salah satunya adalah saat saya akan menginput data dalam format csv awal minggu ini. Data seperti biasa saya input dan rapihkan menggunakan LibreOffice. Reformatting yang saya lakukan seperti biasa adalah:
  • cek judul kolom dan baris, apakah ada yang di-merge;
  • penamaan ulang judul kolom dan baris agar lebih ringkas tapi tidak kehilangan info utama;
  • cek jenis data: apakah numerik atau bukan dst.

Kemudian tabel saya save as ke dalam for csv. Sebelum akhirnya saya baca dalam R.

Baca data seperti biasa perintahnya:

foo

Kemudian cek jenis data dengan perintah:

str(foo)

Yang aneh data yang saya harapkan numerik jenisnya, terbaca sebagai factor. Saya cek balik ke tabel, Googling bagaimana cara mengkonversi tipe data dst, tidak berhasil!

Kemudian saya tinggal tidur. Ya betul kalau ada yang tidak beres, masalah apapun Sleep on it.🙂

Keesokan paginya saya coba lagi buka data spreadsheet nya. Kemudian saya iseng ubah format angkanya. Yang sebelumnya format angkanya dengan koma dan titik, saya kembalikan ke default. Artinya angka anda hanya ada tanda desimalnya (bisa koma atau titik), sedangkan pemisah untuk ribuannya hilang.

Saya save as ke csv kembali, dan baca di dalam R.

Dan voila!

Kolom numerik yang sebelumnya terbaca sebagai factor, sekarang terbaca sebagai numerik.

Jadi kalau anda masih menggabungkan pola kerja data input dengan spreadsheet seperti saya, maka hilangkan segala formatting, terutama terhadap angka sebelum meyimpannya ke dalam format ASCII (misal csv atau txt)

Moral of the story: Sleep on it🙂

Do you know that microbes can cause corrosion?

I moved this post to this link, the venue talking about various interesting research I invite all of you to visit and/or write a guest blog on.

The following post (basically borrowed from our live tweet) is our effort to expose the results from researchers from ITB, especially those within the scope of life and geoscience. This time is the D-Day for Dr. Keukeu Rosada. Our friend from Biology Department, Universitas Padjadjaran.

High chance this post will be co-hosted by Postgrad ITB website.

So here it goes.

Continuing our effort to widely disseminate our research @itbofficial we are live tweeting on another PhD presentation #drkeukeubio

Our live tweet are in Indonesian lang #drkeukeubio

We are live tweeting on this PhD project by Mrs. Keukeu Kaniawati Rosada this morning 7 Okt 2016, Annex ITB. #drkeukeubio

Disertasi #drkeukeubio -> Karakt fenotipik & genotipik biofilm dari korosi mikrob pd logam carbsteel 37&stainless steel 304 di PLTA Saguling

Disertasi #drkeukeubio dilaksanakan di Prodi S3 Biologi SITH ITB, sejak 2011. supervisors: Dr. Pingkan, Dr. Gede Suantika, dan Dr. Dea ITB.

Walaupun kami tidak sebidang secara langsung dengan bidang ini, tapi kami melihat aspek mikrobial sangat berkaitan dengan air. #drkeukeubio

Lokasi riset adalah PLTA Saguling, salah satu PLTA terbesar di Indonesia #drkeukeubio

Lokasi penelitian #drkeukeubio -> (dari Google Maps)

Terletak di Provinsi Jawa Barat, PLTA Saguling adalah salah satu pemasok utama listrik Jawa-Bali. #drkeukeubio

Korosi, khususnya mikrobial adalah masalah krusial untuk sistem perpipaan PLTA #drkeukeubio

Korosi mikrobial dipengaruhi variabel lingkungan yg sangat kompleks. Untuk itu riset ini sangat penting utk keberlanjutan PLTA. #drkeukeu

Alur kerja riset: 1) karakt biofilm pd permukaan logam; 2) karakt fenotipik & genotipik biofilm pd permukaan logam; … #drkeukeubio

… 3) suksesi mikrobial pd pembentukan biofilm, 4) Eval pembentukan biofilm;& 5) Pembuatan model prediktif pembentukan biofilm #drkeukeubio

Riset ini adl salah satu riset pioneer yg mengkaji proses korosi oleh mikroba di daerah tropis. Berikut penelusuran cepat kami #drkeukeubio

Berikut hasil dari Scopus dgn keyword “microbial corrosion” dr Scopus. (mestinya Scopus utk keperluan ini, bukan utk yg lain) #drkeukeubio.

Anyway lupakan Scopus! Kembali ke riset #drkeukeubio🙂 Sebelum anda semua ‘ilfil’ (kata anak sekarang)

Riset ini adl salah satu riset pioneer yg mengkaji proses korosi oleh mikroba di daerah tropis. Berikut penelusuran cepat kami #drkeukeubio

Berikut hasil dari Scopus dgn keyword “microbial corrosion” dr Scopus. (mestinya Scopus utk keperluan ini, bukan utk yg lain) #drkeukeubio.

Kalau kami gunakan keyword ‘microbial corrosion Indonesia”, hanya muncul satu paper. #drkeukeubio Itu indikasi bahwa riset ini prioneer!

Yg epic, riset ini sdh dipublikasikan di Journal of Biological Science #drkeukeubio link: https://t.co/Fh0hR0iqs7

oh, lupa, artikel tsb #openaccess. Yg lbh epic lg, paper tsb 1 dr hanya 31 paper yg terindeks Scopus yg membahas Saguling #drkeukeubio

So people, this kind of research is gonna be huge in Indonesia. It’s beyond oil gas! We need more of this. #drkeukeubio

Final results: 1) Saguling aquatic enviro is considered to be eutrophic, meaning it’s rich o nutrient for organism living in it #drkeukeubio

..2) The formed biofilm is related strongly related to bacteria, phytoplankton, zooplankton, and bethic. #drkeukeubio

… The growth is enriched by the SRB (sulphate reducing bacteria), to boosts the corrosion rate 473x for CS & 2x for SS #drkeukeubio

Komentar dari penguji bahwa riset ini akan menjadi salah satu referensi utama urusan biofilm biokorosi di daerah topik #drkeukeubio

Selain menemukan status akuatif , spesies mikroba penyebab korosi, riset juga telah mengidentifikasi suksesi mikroba … #drkeukeubio

… serta model prediktif rate pembentukan biofilm pd dua jenis logam CS dan SS #drkeukeubio

Sekilas tentang #drkeukeubio, lahir di Bdg, dan menyelesaikan pendidikan menengahnya di @sma3bandung pd thn 1994…

Pendidikan S1 dan S2 #drkeukeubio diselesaikan di Biologi ITB (lulus S2 tahun 2003) utk kemudian meniti karir sbg dosen di @unpad.

Sekian live tweet dari kami. Menyusul foto-fotonya🙂. Selamat #drkeukeubio.

[rejected] ICMNS 2016: Multivariate analysis of limestone petrographic properties using R

Abstrak ini telah kami kirimkan ke Panitia ICMNS 2016. Podcast dalam Bahasa Indonesia akan kami bagikan untuk dapat memberikan penjelasan secara lebih rinci. Berikut ini podcast nya. Hasil review menyatakan bahwa makalah ini ditolak. Untuk itu kami akan mencoba mengemas ulang makalah ini sebagai satu kesatuan dengan makalah sejenis dengan obyek batuan gunungapi, yang diterima.

Continue reading “[rejected] ICMNS 2016: Multivariate analysis of limestone petrographic properties using R”

ICMNS 2016: Comparative petrographic analysis of volcanic rocks in 5 different areas using R

Abstrak ini telah kami kirimkan ke Panitia ICMNS 2016. Podcast dalam Bahasa Indonesia akan kami bagikan untuk dapat memberikan penjelasan secara lebih rinci. Berikut adalah podcast nya.

Continue reading “ICMNS 2016: Comparative petrographic analysis of volcanic rocks in 5 different areas using R”

[rejected] A view on air and water pollution in Jakarta and Bandung area (ICMNS 2016)

Abstract

Introduction The following is our perspectives on water quality research landscape in Jakarta and Bandung, Indonesia, as part of our proposal to RCUK-DIPI grant program.

Jakarta and Bandung are two growing mega cities with a very different geographical setting. Jakarta started off as the lowland coastal area which is now the capital of Indonesia, while Bandung lies in volcanic highlands environment with a bowl-shaped topographical land form. Both cities are developed with many industrial activities. Factories have been built surrounding the main cities to form satellite zones. As one the impact, settlement areas grows rapidly around the perimeter. Due to this development, the number of motor vehicles (cars, motorbike, and trucks) raises fast. These have raised many environmental problems, from direct waste dumping to the air pollution.

Air quality Based on Jakarta Environmental Management Agency, air contaminants like Nitrogen dioxide (NO2), Carbon monoxide (CO), and Non Methane Hydrocarbon (NHMC) are all above the permissible limit. The highest NO2 ever recorded was 2.5 micron/m3, highest CO was 8 micron/m3 (both min limit is 9 micron/m3), and highest NHMC was 0,2 micron/m3 (min limit is 0.24 micron/m3).

The same situation goes for Bandung. The average contribution of Carbonmonoxide (CO) from vehicle emission of 599 tonnes/year or 98% of the total CO emission in Bandung. Being developed as tourism-based city, the CO concentration in Bandung will increase in week ends to reach 2500 kg/day, due to large flowing traffic of vehicle from neighboring city. This air pollution is aggravated by the bowl-shaped morphological feature of Bandung basin.

Water quality However the increase of nitrogen-based substances, like Nitrite and Nitrate, have been reported since early 2000’s. Concentration of N-NO2 of 0.01-0.03 ppm and N-NO3 of 0.46-10.19 ppm have been recorded in several dug wells in the Ciliwung riverbank in Bandung-Bogor area, while the concentration of N-NO2 and N-NO3 in the river water of the same area was 0.01-0.45 ppm and 1.43-2.58 ppm. In Jakarta N-NOx concentration was also found in dugwell, but lower in confined aquifer than in unconfined aquifer. Research on studying groundwater and river water interactions has not been largely done in both Jakarta and Bandung area. The close relationship between groundwater and river water in both Cikapundung (Bandung) and Ciliwung (Jakarta) induces chemical mixing in the water.

Possible causes Domestic waste have been mentioned frequently to have caused such elevated concentration of N-Nox in the surface water and groundwater, but no research have been done to see its connections with air pollution. This research is proposed to see how is the mechanism of nitrification processes in tropical sites given the high rainfall, shallow groundwater, and the vast development of watershed. To identify such interactions, we will analyze the concentration of environmental isotopes to see the relationship between atmospheric water, surface water, and groundwater.

Continue reading “[rejected] A view on air and water pollution in Jakarta and Bandung area (ICMNS 2016)”